Senin, 30 Januari 2012

Tuhan Bagian Dari Kehidupan Umat

Pengantar

Kitab Mazmur ini merupakan renungan panjang dan lebar tentang Taurat Tuhan (Pengajaran Tuhan). Di dalam ayat pertama dari kitab Mazmur pasal 119 ini, tidak tertera siapa penulisnya. Oleh sebab itu, siapa nama penulis dari kitab Mazmur ini tidak terlihat. Memang ada beberapa pasal dalam kitab Mazmur yang nama penulisnya tidak dicantumkan. Biasanya kitab Mazmur seperti ini ditulis secara kolektif (persekutuan jemaat), sehingga penulis tidak mencantumkan namanya dengan nyata, dan mewakili sebagai penulis pun tidak. Jika diteliti dapat saja ditemukan tentang siapa penulis dari kitab yang mengutamakan pengajaran kehidupan rohaniah daripada kehidupan lahiriah manusia.

Dalam hal ini, tidak mempersoalkan siapa penulis kitab Mazmur pasal 119 ini; apa latar belakangnya?; mengapa harus ditulis?. Setidaknya melalui kitab Mazmur ini, kita mau mendengar pengajaran dari Allah tentang Dia yang sudi menjadi bagian dari kehidupan kita. Dan kita sebagai umat-Nya diminta Allah untuk bisa memenuhi kehendak Firman-Nya lewat hari-hari kehidupan. Dengan perkataan lain, Allah mau mengajar kita dengan Kasih setia-Nya yang dapat dianalogikan seperti pengajaran orang tua terhadap anak-anaknya, atau didikan guru kepada murid-muridnya.

Kehadiran Allah yang adalah Guru Illahi mengajarkan tentang kebenaran diri-Nya sebagai Allah yang sedang berkomunikasi secara lisan, seperti pengajaran di sekolah atau didalam rumah tangga. Riilnya didalam pengajaranNya, Allah mengajarkan bahwa Dia telah menghadirkan keberadaan diriNya dengan segala tuntutan-tuntutanNya yang harus dipenuhi oleh murid-muridNya. Seperti tuntutan-tuntutan Allah didalam hukum-hukumNya, peraturan-peraturanNya, titah-titahNya, ketetapan-ketetapanNya, keputusan-keputusanNya, perintah-perintahNya, yang semuanya memiliki kewibawaan Illahi. Wajib didengar dan ditaati oleh kita, sebagai petunjuk jalan-jalan kehidupan yang menuntut konsekuensi, maksudnya wajib mendengar dan mentaati pengajaran Allah saja, maka ada kebahagiaan hidup yang kekal. Terkesan diluar Allah tidak ada satu pun petunjuk jalan tentang kebahagiaan hidup.

Tafsir Perikop Bacaan

Terlalu menganggap ekstrim kalau mengatakan bahwa : ada orang-orang yang tidak ber-Tuhan. Seperti biasa mereka berpola hidup selalu mencemooh kehidupan orang lain, dan hidup menyendiri secara tertutup (eksklusif), serta selalu beranggapan bahwa dirinya paling benar tanpa melakukan persekutuan individu bersama yang bersahabat-karib. Mereka beranggapan bahwa orang-orang lain tidak memiliki kebenaran, sebagaimana kebenaran yang terdapat didalam dirinya. Lebih spesifik, mereka selalu memelihara pikiran untuk melupakan sama sekali adanya Tuhan. Mereka pun bukanlah persekutuan orang-orang benar, seperti yang diceritakan (diajarkan) dan dipelihara oleh Allah didalam Firman-Nya.

Sekarang kebalikannya dengan anggapan kita, bahwa kita tidak bisa kalau tidak memiliki Tuhan apalagi tidak memiliki Firman-Nya. Anggapan kita itu, merupakan bagian dari pembelajaran Taurat Tuhan, dimana kita wajib memiliki Tuhan, dan wajib menciptakan persekutuan individu bersama, yang sungguh-sungguh merindukan perkenanan Tuhan dengan anugerah-Nya. Kita wajib berkeinginan untuk selalu mencari hadirat-Nya, sehubungan dengan kita yang senang memuliakan Tuhan. Dan, kita wajib memandang kasih setia-Nya yang dianugerahkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Serta, kita wajib memiliki dan mendalami khazanah Firman Allah yang diperuntukan bagi kehidupan bangsa-bangsa. Bahkan, bagi kita mustahil untuk tetap tinggal didalam Firman Tuhan, justru sebaliknya Firman Tuhanlah yang selalu tinggal di sepanjang kehidupan kita.

Menjadi wajib bagi kita untuk terus-menerus mencari kasih setia Tuhan yang menjadi bagian dari kehidupan pribadi dan persekutuan individu bersama. Agar Tuhan memutus tali-tali (jerat-jerat) dan tekanan dari kumpulan orang-orang pencemooh, tentu terhadap kita yang sementara berpegang teguh pada Firman-Nya. Para pencemooh yang hanya memiliki kecintaan pada kehidupan yang menyimpang terhadap Firman Tuhan, bukan sebaliknya kecintaan yang selalu berpegang teguh pada Firman Tuhan. Demikian, bagi kita wajib berpegang teguh pada Firman Tuhan, agar Tuhan pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita untuk selama-lamanya.

Tuhan tidak pernah merubah keberadaan diri-Nya, sesungguhnya Tuhan sejak semula penuh kasih setia adanya. Dan Tuhan selalu mengasihi kehidupan kita, sekalipun kita cenderung menyimpang terhadap Firman-Nya. Dalam pengertian luas, baik sadar maupun tidak sadar, kehidupan kita selalu berkecenderungan untuk melakukan penyimpangan terhadap Firman Tuhan, seperti yang terjadi pada kumpulan orang-orang pencemooh. Namun, kini kita wajib memohon pembaruan hidup dari Tuhan, supaya diberi-Nya kehidupan yang baru. Kehidupan yang baru merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Tuhan, sebab itu kita wajib berjanji untuk selalu berpegang teguh terhadap Firman-Nya. Supaya demi Firman-Nya di sepanjang kehidupan, maka kita tidak hanya mendapatkan kebahagiaan hidup saja, melainkan kita juga harus segera memberitakan kasih setia Tuhan kepada sesama umat yang ber-Tuhan.

Pertanyaan-Pertanyaan Reflektif

1. Beri penjelasan dengan jujur dan benar; Apakah ada ketulusan hati ketika kita mendengar pengajaran Firman Tuhan melalui kehadiran Gereja dan melalui kehidupan di rumah tangga?.

2. Bagaimana perasaan kehidupan kita setelah menerima pengajaran Firman Tuhan melalui pengalaman-pengalaman kerohanian selama ini?.

3. Sudahkah kita menjadi teladan bagi kehidupan rohaniah yang selalu berbuat baik kepada orang-orang yang hidup di sekeliling kehidupan kita?.

4. Sudahkah mempercayakan kehidupan rohaniah kita sepenuhnya kepada Tuhan dengan mentaati Firman-Nya?.

5. Bukankah kehidupan rohaniah kita sekarang sudah menjadi bagian dari keberadaan Tuhan yang penuh kasih setia-Nya kepada orang-orang yang mencari hadirat-Nya?.

Sabda Guna Dharma-Krida untuk Hari Rabu, 01 Februari 2012

Bacaan Alkitab Utama:

Mazmur 119:57-64
57. Bagianku ialah TUHAN, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu.
58. Aku memohon belas kasihan-Mu dengan segenap hati, kasihanilah aku sesuai dengan janji-Mu.
59. Aku memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatan-Mu.
60. Aku bersegera dan tidak berlambat-lambat untuk berpegang pada perintah-perintah-Mu.
61. Tali-tali orang-orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.
62. Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil.
63. Aku bersekutu dengan semua orang yang takut kepada-Mu, dan dengan orang-orang yang berpegang pada titah-titah-Mu.
64. Bumi penuh dengan kasih setia-Mu, ya TUHAN, ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Bacaan Alkitab Lainnya:

Bacaan Alkitab Pararel:

0 komentar:

Posting Komentar